Extradetik.com – Bandung, 20 Mei 2025 Politikus sekaligus tokoh publik Dedi Mulyadi kembali jadi sorotan setelah pernyataannya soal efisiensi promosi program-programnya viral di media sosial.
Ia mengklaim berhasil memangkas biaya promosi dari semula Rp 50 miliar menjadi hanya Rp 3 miliar berkat kekuatan media digital seperti YouTube dan platform media sosial lainnya.
“Dengan memanfaatkan digital, saya bisa menjangkau masyarakat lebih luas tanpa harus menggelontorkan dana besar,” ujar Dedi dalam sebuah wawancara yang dipublikasikan di kanal resminya, Kang Dedi Mulyadi Channel, yang kini memiliki ratusan ribu pelanggan aktif.
Media Konvensional Tersenggol?
Pernyataan ini memunculkan spekulasi panas. Banyak pihak menduga efisiensi tersebut membuat sebagian media konvensional “gerah”, terlebih di musim menjelang pemilu, di mana kampanye biasanya jadi ladang pemasukan besar bagi media televisi, radio, dan cetak.
“Kalau biasanya politisi jor-joran pasang iklan atau beli slot program, ini malah cukup dengan konten dokumenter yang tayang di YouTube. Media lama pasti merasa tersaingi,” ujar seorang analis media yang enggan disebut namanya.
Beberapa pihak bahkan menilai bahwa kritik-kritik terhadap Dedi yang muncul di beberapa media belakangan ini tak lepas dari perubahan strategi komunikasinya yang “tidak menguntungkan industri lama.”
Disambut Warganet
Langkah Dedi justru mendapat sambutan positif dari publik di media sosial. Banyak yang menganggap pendekatan Dedi lebih autentik dan hemat anggaran negara jika nanti ia memegang jabatan publik kembali.
“Lebih baik uang rakyat digunakan untuk program nyata, bukan untuk bayar iklan pencitraan,” tulis akun X di platform X.
Perubahan Lanskap Politik
Fenomena ini menjadi cerminan pergeseran besar dalam lanskap politik dan media di Indonesia. Para politisi kini tak lagi sepenuhnya bergantung pada media arus utama untuk membangun citra. Mereka bisa menciptakan panggung sendiri, membangun koneksi langsung dengan rakyat lewat konten digital.
Namun di sisi lain, ini juga menimbulkan tantangan bagi media konvensional untuk beradaptasi dengan zaman. Jika tidak, mereka bisa saja tergilas oleh gelombang digitalisasi yang semakin mendominasi ruang publik.
Editor: Redaksi Extradetik
Penulis: Tim Investigasi Digital
Tagar: #DediMulyadi #KampanyeDigital #MediaKonvensional #Politik2025 #YouTubePolitik



















